Bali's California Breeze

Pertama kali menginjakkan kaki 8 tahun silam, musisi asal Los Angeles ini langsung jatuh cinta pada Bali. Saat itu ia bergabung dengan sebuah band sebagai pemain bass dan penyanyi, diundang untuk mengisi sebuah event yaitu Bali Spirit Festival di Ubud. Pesona Bali saat itu menjerat kuat kalbu dan benak sang musisi kelahiran 11 Agustus 1987 ini. Kembali ke Los Angeles saat itu, tak ada hari berlalu tanpa memikirkan dan bermimpi tentang Bali. "It was like a fantasy. I knew that I will have a home in Bali someday. I was immediately in love," ingatnya. Lucunya, saat pertama kali mendapat tawaran gig itu, ia tidak pernah mendengar sedikit pun tentang Bali, and she had to google it untuk mencari tahu lokasi pulau ini. Sukses terpikat pesona Pulau Dewata, sejak itu Leanna kerap bekerja keras untuk mampu membiayai trip selanjutnya dan tinggal di Bali untuk beberapa bulan. Datang dan pergi. Siklus itu terjadi. Membagi hidupnya antara Bali dan California. Lalu nyaris 2 tahun lalu ia kembali datang dan tak bergeming hingga kini. Look at her now, "In Bali, I feel like I am home."

 

Perempuan dengan figur tinggi semampai ini kerap kali membalut siluetnya dengan busana bergaya natural bohemian, mengekspos persona yang seolah menyatu dengan Bali. Pembawaan diri yang santai dan apa adanya namun kaya akan charm. Seperti musiknya, ethereal soulful folk music yang lembut dinyanyikan dengan suara alto yang berharmoni dengan gitar yang ia mainkan, tidak ada nada yang dipaksakan. You should see her sing. Jiwa itu seketika menyatu dengan musik dan menciptakan dunia sendiri yang seolah tidak memperdulikan kegiatan lain di dalam ruangan yang sama. Magical and mesmerizing. Bakat yang tidak butuh dipertanyakan.

 

Talenta itu kini melebur dalam panggung seni Nusantara. Bukan hanya atmosfer dan gaya hidup Bali yang memikatnya. Namun komunitas seni Indonesia yang sesungguhnya menjerat dan menopang hasratnya. Mengaku hanya tinggal dan memahami Bali, lalu hanya melalui beberapa hari di Yogyakarta, Solo, dan Jakarta. Tapi selama menekuni petualangannya di Indonesia, Leanna terpikat kuat oleh suasana komunitas seni bangsa yang luhur. "With Indonesian art, I'm in love with the community aspect of it. Begitu banyak musisi berbakat di Bali dan di kota-kota lainnya, dan semuanya adalah orang-orang yang sangat terbuka untuk berkolaborasi dan mendukung satu sama lain, walaupun berbeda-beda gaya dan genre. They all are very cool and genuine. There are so many creative people in Indonesia and from the art community aspect, there is actually a place where people are supporting each others, that allows us to be more creative and able to reach something greater. No judgements and no competitions," perempuan cantik keturunan Filipina ini menjelaskan dengan aura berbinar-binar, mengingat detil pengalamannya selama diayomi tangan-tangan berbakat seniman Nusantara. Wajahnya nyata mengutarakan betapa beruntung dirinya mampu berada di dalam suasana seni mengesankan ini. "To compare," ia melanjutkan sambil menyibakkan rambut ikal lebatnya, "In America, we are raised to believe that competition is good. Well, it is actually a good method, but somehow it doesn't apply in my own world. Bagi saya, kita sangat butuh untuk menjadi karakter yang terbuka dan supportive. Bagi saya, untuk memiliki kebebasan untuk berekspresi dan senantiasa merasa memiliki dukungan adalah suatu yang utama."

 

"Saya sangat merindukan keluarga," sulit untuk tak mengingat keluarga saat berbicara tentang dukungan. Leanna seketika bercerita tentang hari-harinya yang sibuk dengan tour, namun saat memiliki day off, hari itu berputar dengan rasa rindu pada keluarganya di California. Terutama saat ini, saat kariernya melejit cepat sejak musiknya ikut serta menghiasi sequel film Filosofi Kopi, yang mengharuskan ia untuk terlibat tour ke berbagai kota. "Saya rindu hangout dengan orang tua saya. Saya memiliki seorang saudara laki-laki dan ia memiliki anak laki-laki berusia 2 tahun dengan rambut keriting afro besar. Saya sungguh tidak sabar ingin menemuinya. I am actually going home in about a month," ia tersenyum lebar. "Saya akan melepas rindu pada keluarga selama satu bulan di California sambil melakukan tour kecil di central coast area."

 

Tentu saja. Karena bukan hanya Indonesia yang membutuhkan musik Leanna. Kampung halamannya pun merindukan sentuhan nada laid-back-nya. "I am a healer. Karena bahkan melalui musik, the vibration can heal people. Liriknya, iramanya. Kekuatan lirik untuk mampu menciptakan koneksi dengan orang lain yang mendengarkan, seperti memberi tahu orang lain bahwa mereka tidak sendirian saat berada di situasi sulit. The actual sound and the vibration that actually physically heals our body. My intention is always being able to heal people with my music, untuk membawa kesembuhan dan kedamaian, because the world needs more of that."